Teruntuk Ayah Tercinta
Hari ini engkau menghembuskan nafas terakhirmu
Aku seakan tidak percaya
Aku menangis dengan perasaan menyesal yang teramat sangat
Tapi aku sadar,
Dengan menyebut Astagfirullah hal adzim bahwa itu semua telah menjadi kehendak Nya
Sebuah suratan takdir yang tidak dapat aku ubah
Pergilah ayah
Aku ikhlas melepas kepergianmu
Aku sangat sayang kepadamu
Tapi, Allah lebih menyayangimu
Sebab itu engkau dipanggil menghadap Nya
Kepada Mu ya Allah
Terima ayahku disisi Mu
Ampunilah dosa dosanya
Maafkanlah segala kesalahan dan kekhilafannya
Terimalah iman, islam serta ibadahnya
Limpahkanlah rahmat Mu kepadanya
Lapangkanlah dan terangilah kuburnya
Selamat jalan ayah
Semoga engkau bahagia dan damai peluk mesra Ilahi
Biarlah segala kenangan yang engkau tinggalkan menjadi cerita sendiri didalam hatiku
Doa ku tak akan pernah putus dan akan selalu menyertai perjalananmu
Terimakasih telah menjadi ayah yang hebat
Meskipun aku tak bisa lebih lama lagi merasakannya
Semoga kau tenang dan bahagia di surga Nya nanti
Dan kita berkumpul kembali di surga Nya kelak.
Ini Kisah ku
Saat itu umurku 14 tahun dan aku duduk dibangku kelas VIII serta aku tinggal di sebuah pondok pesantren yang jauh dari tempat tinggal keluargaku.
Sore itu tepatnya hari sabtu orangtuaku menjengukku ke pesantren, tidak biasanya karena orangtuaku sudah menjenguk sebelumnya. Ternyata ayahku teringat perkataan ibuku bahwa aku saat itu menginginkan kerudung baru, dengan begitu orangtuaku menemuiku kembali dan membelikanku kerudung baru serta memberikan makanan (kue balok) kepadaku saat itu. Setelah sholat magrib orangtuaku sudah pergi lagi untuk pulang, sebelumnya ayahku berpesan kepadaku tapi entah aku lupa..
Ketika malam aku baru ingat bahwa orangtuaku tadi memberikanku makanan, dan entah mengapa aku merasa sedih ketika melihat makanan itu. Dalam benakku aku harus menghabiskan makanan tersebut, tapi makanannya banyak dan teman temanku pun udah pada tidur terpaksa aku harus memakan semuanya, sambil aku memakannya entah mengapa mataku tidak berhenti mengeluarkan air mata, ada perasaan bersalah jika aku tidak menghabiskannya.
Singkat cerita, hari senin pukul 02.00 dini hari ustadzah ke kobongku untuk membangunkanku, ketika aku bangun aku kaget karena loh ko ada ustadzah. Lalu ustadzah bilang ada nenek dan kakek ku datang ke pesantren untuk menjemputku karena ayahku sakit, aku heran kenapa tidak menunggu besok pagi saja untuk menjemputku? Karena memang aku masih mengantuk aku tidak terlalu menghiraukannya dan Aku pun pulang ikut dengan kakek nenek ku, ketika di perjalanan barulah aku mulai sadar dan terus bertanya tanya dalam hati apa sebenarnya yang terjadi sehingga tidak menunggu besok aja untuk aku pulang..
Singkat cerita, sampai lah aku di yang menuju rumah nenek, tapi aneh.. Kenapa aku dibawa ke rumah nenek ku yang dari ayah? Bukankah yang sakit ayahku? Kenapa aku tidak dibawa pulang ke rumahku?
Ketika itu.. Ada bendera kuning. Bendera kuning itu artinya.. Ah pikiranku mulai tak karuan, hatiku berdebar debar akan mengetahui hal yang pahit. Lalu aku berpikir mungkin nenek ku yang meninggal, dan Aku pun sudah merasakan kesedihan itu. Tidak lama, sampailah aku di depan rumah nenek dan semua mata tertuju kepadaku. Lalu aku bersalaman dengan semua orang dan orang orang malah membalsaku dengan pelukan sambil mengatakan "sabar". Kulihat di sekelilingku penuh dengan haru dan air mata, namun saat aku memperhatikan sekelilingku nenek ku ada disitu sambil menangis, lalu siapa itu dibalik kain batik yang dikelilingi orang orang yang membacakan ayat suci al quran? Aku mulai tak berdaya, seketika ibuku langsung memelukku sambil menangis histeris, makin menjadilah suasana kabung saat itu, tak kuasa lagi aku menahan bendungan air mata ini. Lalu aku pun duduk dekat dengan jenazah tersebut, dan salah satu orang membukakan kain batik itu. Namun saat aku melihatnya tak tahan lagi diri ini lemah tak berdaya, air mataku pun sudah tidak berasa lagi dan mulut ini tak mampu mengeluarkan suara apapun. Saat itu aku berasa kacau, perdebatan antara pikiran dan perasaanku, aku tak mampu mengontrol diriku. Entah harus bagaimana, aku tak bisa berpikir apapun.. Sedih yang teramat dan luka yang mendalam. Lalu keluargaku menyuruhku untuk mengambil air wudhu dan membaca ayat suci al quran, setelah itu barulah aku merasa tenang.. Lalu aku melihat ibuku yang masih sangat sedih, adik adikku yang juga masih kecil ikut merasakannya.
Hm aku tak tahu mesti bagaimana, hanya ikhlas dan sabar yang dikatakan orang orang yang mesti kulakukan.
Tidak begitu cepat aku mengikhlaskannya, itu membutuhkan waktu yang cukup lama, pikiranku dan hatiku selalu saja menolak, tapi apa daya karena itu memang sudah suratan takdir, tidak ada yang tahu sampai kapan mau hidup di dunia ini..
Teringat sebelumnya, pantas saja ayahku sangat ingin menemuiku saat itu hanya untuk membelikanku kerudung baru dan mungkin untuk berpamitan.. Serta kenapa aku sangat ingin menghabiskan makanan itu, karena itulah makanan terakhir yang diberikan ayah untukku..
Terimakasih ayah, selama kau menjadi ayahku di dunia ini, tidak pernah kau menyakitiku, kau selalu memberikan yang terbaik untuk anak anak mu dan keluargamu. Terimakasih banyak telah menjadi pahlawanku, semoga di surga kelak kita dipersatukan kembali. Dan semoga ayah, aku menjadi anak yang sholeh sehingga doaku sampai kepadamu..
Karena 3 perkara yang tidak akan terputus, yaitu amal jariyah, ilmu yang diamalkan serta doa anak sholeh..
Ayah aku rindu :) (dalam doa)
===> komentari yaaa, yang baik baik hehe ;)